May 9, 2010

Bersyukur ( from my FB' notes )


Seorang bertanya pada Gurunya, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”

Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke dengan tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup.

Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.

Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam qalb-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.

Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti POHON.

Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk.

Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.

( cerita diatas diambil dri suluk.blogsome.com)

*****

Sedikit pengantar dibuka dari catatannya Kang Henry di blog suluknya. Jujur saja, saya suka sekali membaca blognya. Menambah semangat untuk selalu bisa berbaik sangka kepada semua kejadian yang Allah kehendaki kepada saya.

Apalah saya ini? hanya seorang hamba saja toh? Tidak punya kekuatan untuk menolak apa yang sudah di tulis di Lauh MahfudzNya. Semuanya tergores dari jodoh, maut, lahir dan kebaikan dan keburukan. Semuanya sudah di catat di buku saktiNya.

Kalau saya ingin mengelak, mengomel atau mencaci maki. Hmmm, bisa di pecat saya jadi hamba. Lalu saya akan berlari kemana? Bumi ini pun ciptaanNya, planet lainpun juga DIA yang menciptakan.

Jadi sikap yang bisa saya lakukan nerima saja...

Tapi saya manusia loh? bukan malaikat, bukan pula Nabi, ataupun waliNya

Jadi tingkat keimanan saya pun suka pada titik rendah derajat celcius, kadang pula semangat - ghiroh menggebu-gebu dititik sedang , ^_^ nggak berani ngaku dititik tinggi. Sepertinya itu cuma maqamnya para Nabi, para AuliaNya, kekasihNya, sahabarNya.

Saya paling senang ditimpa ujian oleh Tuhan. Karena ketika ditimpa ujian oleh Nya, saya di ingatkanNya. Saya masih dikasihNya sentilan....Gini loh Ve!, kamu tuh balik lagi ke jalan Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW itu kunci utama untuk kamu bisa bertemu AKU.

Kemarin ada cerita sedikit mengharu biru. Disaat cacar air saya sedang ngilu-ngilunya plus badan panas dingin. Wajah ini serasa seperti habis di tonjok. Nyerriii banget dengan sakit ini.

Sempat sedih karena ndak bisa memeluk atau mencium Aisyah. Wah gimana yah perasaannya sehari nggak mencium dan memeluknya. Aisyahpun juga merasa aneh tampaknya.
Dia selalu bilang pengen cium atau meluk, lalu Ve bilang jangan dulu yah sayang, nanti klo mama sudah mendingan.

Nah 2 hari yang lalu, cacar ini sakitnya berkurang. Dan panas dingin pun selesai, sakit tenggorokkan juga hilang, kepala nyut-nyut pun hilang...sudah bisa bercanda dan duduk santai dengan Aisyah.

Aisyah : Mommy, apa kamu sudah sembuh ?

Ve : Alhamdulillah, sudah sedikit baikkan , sayang.

Aisyah dengan wajahnya yang manis dan tersenyum memandang sang mommy .
Mungkin dipikirnya si Mommy udah baikkan, kok mukanya masih tetap spt monster sih ( hehehe, awal-awal saya kena ,langsung saya balutin cream diseluruh wajah, pas Aisyah pulang dari playgroup , diapun menyeletuk : mom, kenapa muka nya kok spt monster! )

Aisyah : Mom, kamu tahu ....ALLAH itu sangat bahagia melihatmu. Krn kamu berkata Alhamdulillah sedikit lebih baik! ( sembari nunjukkin jarinya sedikit kadarnya ).

Ve : ( mikir : Weikksss, tahu dari mana tiba-tiba kok bilang gitu sih?) tapi akhirnya saya cuma bilang OK!

Aisyah : ALLAH itu sangat mencintai kamu , mommy.

Ve : Aduuuuh benerrrr yah Nak? * terharu mode on* pengen meluk dan pengen nge kiss tapi nggak bisa*

Aisyah : mengangguk, iyaaa mom.....

Ve : Ahhh ,kamu pinter banget sih buat mommy bahagia...Makasih yah

Aisyahpun tersenyum simpul , sembari menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ve....


***

HIKMAH :

Ah Nak, Aisyah....kamu saja anak sekecil itu bisa berpikiran selalu positiv sama Tuhan, kamu yakin sekali kalau Tuhan mencintai saya, dan Tuhan berbahagia kalau saya mensyukuri ujianNya.

Ah Aisyah....makasih lagi yah Nak!.....Mommy bersyukur ....

Den 5.maj.2010 kl. 20.35

Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ---> Setelah saya hitung-hitung, ayat tersebut ternyata bisa berulang kali terbaca hingga 31 kali banyaknya. Anda bisa mendapatkannya di ayat ke-13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77. Surat Ar Rahman

4 comments:

Reni Dwi Astuti said...

Subhanallah, tulisan dan cerita yang bisa menjadi sarapan buat hati kita...
Mbak Ve, semoga cepat sembuh dan sehat kembali, plus mulus lagi, he he...
Aisyah...we really love you...
amazing child....

wawansri said...

ijin ..
baca2 ya...
maksih

Abu Ahnaf said...

mampir dari jalan2...
mkasih

Maulia said...

Assalamualaikum Mbak Ve, sudah lama tidak membaca blog-nya mbak Ve. Oh itu suluk.blogsome namanya Herry Mardian, bukan Henry :D saya juga sering baca-baca blog Herry. Tulisannya bagus, terakhir saya dengar dia sedang menerjemahkan buku Bawa Muhaiyyaden dan sudah di cetak di Indonesia. Anyway, senang bisa membaca blognya mbak Ve kembali.

Wasalam,
Maulia